Memanggilmu

Mutiara itu akan ada di bola mataku sejak waktu menjemput kita untuk bertemu. Angkasa raya membaur dengan suasana terik membias di lorong sekolahku. Berapa derajat suhu ini. Berapa lama bumi berputar. Berapa kali hembusan nafas atau sebanyak apapun oksigen yang kuhirup. Bahkan seberapa peduli aku atas apa yang  mereka tertawakan. Aku masih punya sekepal tangis darinya. Kuberikan tempat yang akan tetap ada. Di lubuk hati manusia terdapat satu kunci untuk membuka sebuah ruang dalam hati itu sendiri. Sebut saja ruang tanpa nama. Biar kusimpan rapat tanpa ada satupun yang tau. Hanya serupa goresan dan arah sirna akan lenyap untuk sementara waktu. Maka berbahagialah...
Lantas jika seperti ini, tertuju kemanakah lagi arah logika pikirku jika perasaan ini kian menjadi. Aku hanya mengagumimu seutuhnya, tapi tak secuilpun terbesit  niat untuk membuatmu memahami bahkan terjatuh sekalipun. Boleh jadi kau tak pernah menyangka, boleh jadi aku terluka sendiri mendengar tentangmu. Tapi,  hati ini akan tiba waktunya tumpah dan tak lagi kusimpan di relung jiwa. Sebab darimu aku tak lagi bosan dengan segala sahutan kanan kiri, aku sirna menelan pahitnya kisahmu yang tak kunjung habis. Aku menutupnya, biar kubungkus emosi cinta ini, lalu bisa saja kuletakkan di dasar samudra bersama ikan ikan mungil yang selalu bersenda gurau bersama terumbu karang.
Wajahmu tak pernah tersintesa persis di depan mataku. Dari kejauhan saja aku tak ingin menamakkan roman mukaku hanya aku takut isyarat mataku sanggup kau baca. Aku memang telah terpikat denganmu meski hanya serupa bayangan sekalipun. Bodoh memang. Menyukai seseorang tanpa ku kenali sosokmu sampai seluk beluk. Tapi percayalah, aku tak akan melampiaskan rasa ini pada sesiapa. Tak kuijinkan sesiapa mengetahuinya. Akan kujaga kerahasiaan ini bahkan oleh waktu yang setiap saat bergulir.
Lalu akan selalu kupertanyakan adakah lagi gerangan jiwa agar mampu melupakanmu? Tak mungkin.
Aku terlanjur jatuh cinta padamu. Aku tau. Tanganku tak pernah bertepuk. Mimpiku di tengah bolongku tak akan terwujud. Setidaknya walau diam diam aku telah menaruh hatiku padamu. Dalam rangkain kataku ada jutaan harap yang terselamatkan. Ah tidak, untuk apa jika ini semu. Bukan nyatalah. Jadi, terimakasih telah menjadi seorang yang istimewa dalam masa putih abu abuku. Terimakasih untuk tak mengenalku sama sekali. Bahagia saja jika aku bisa menyembunyikannya, Karna hanya aku yang terjatuuh, tanpa pula akan mengajakmu. Biar senyum yang kusematkan untukmu tiap hari kututup rapat dibalut rasa rindu. Aku tak peduli. Itu tak pernah sampai. Biar seperti ini saja. Ada yang lebih lama dari sekedar selamanya, dan tak terhenti.

0 komentar:



Posting Komentar